MAKALAH TERAPI MODALITAS
SENAM TAICHI UNTUK MENGATASI KONSTIPASI LANSIA
DOSEN MATA KULIAH
DIAH INDRIASTUTI S,.Kep.NS.M.Kep
OLEH
INDAYANTI HUDIN
S.0017. P. 018
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan sehingga kami bisa masih bisa menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Komunitas dan tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah yang telah memberi tugas ini sehingga kami dapat mengetahui dan memahami isi makalah tersebut.
Semoga dengan adanya makalah tersebut bisa memberi wawasan tentang pentingnya Profesi Perawat dalam Masyarakat khususnya kepada saya pribadi dan teman-teman sejawat saya dan kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan sehingga kami sangat mengharapkan kritikan terhadap pembaca guna kesempurnaan penulisan makalah berikutnya. Wassalamualaikum Wr Wb.
Kendari 25 -01;2021
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Usia lanjut merupakan kelompok orang yang sedang mengalami suatu
proses perubahan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Pada usia lanjut akan terjadi banyak perubahan seiring dengan proses penuaanya salah satu dari perubahan tersebut adalah perubahan pada system gastrointestinal. Keluhan yang sering dijumpai ialah sembelit atau konstipasi, yang disebabkan kurangnya kadar selulosa, insiden ini mencapai puncak pada usia 60-70 tahun (Lilik, 2011)1.
Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau
konstipasi (susah BAB). Konstipasi atau sembelit sering dikeluhkan oleh usia lanjut, yang dapat disebabkan karena usia lanjut kurang aktifitas, kurang masukan air (kurang dari delapan gelas/1.600 cc per hari) serta diet kurang serat (kurang dari 20 gram serat per hari) cendrung mudah mengalami konstipasi (Supartondo, dkk)
Pada umumnya, lansia menganggap konstipasi sebagai hal yang biasa.Sekitar 30–40% orang diatas usia 65 tahun di Inggris mengeluh konstipasi, 30% penduduk diatas usia 60 tahun merupakan konsumen yang teratur menggunakan obat pencahar. Sekitar 20% populasi diatas 65 tahun di Australia, mengeluh menderita konstipasi (Siswono, 2003). Namun jika tidak diatasi, konstipasi dapat menimbulkan situasi yang lebih serius seperti impaksi (feses menjadi keras dan kering) dan obstruksi. Konstipasi kronis dapat mengakibatkan divertikulosis, kanker kolon dan terjadinya hemoroid (Sudoyo, dkk, 2006 dalam Mulyani 2012). Kejadian kanker kolon menempati urutan ke-4, dan menempati peringkat ke-2 penyebab kematian karena kanker di dunia1.
Seiring dengan berjalannya waktu, secara normal penambahan usia akan menyebabkan penurunan fungsi biologis atau fisik, termasuk sistem pencernaan. Perubahan sistem pencernaan pada lansia diantaranya adalah perubahan dalam usus besar, penurunan sekresi mukus pencernaan, penurunan, penurunan kelastisitasan dinding rektum, dan peristaltik kolon yang melemah, peningkatan kelokan-kelokan pembuluh darah rektum. Sebagai akibat dari perubahan sistem pencernaan ini, rektum akan gagal mengosongkan isinya, motilitas kolon menjadi berkurang, menyebabkan absorpsi air dan elektrolik meningkat, sehingga keluhan konstipasi merupakan keluhan yang sering didapat pada lansia (Maryam, dkk, 2008; Sunaryo, dkk, 2015; Muhith dan Sandu, 2016)2.
Konstipasi adalah gangguan saluran pencernaan dimana penderita mengalami kesulitan untuk mengeluarkan sisa-sisa pencernaan (feses), akibatnya feses menjadi keras dan ketika mengeluarkannya membutuhkan tenaga yang kuat. Konstipasi lebih banyak dialami oleh orang yang berusia lanjut karena disebabkan oleh melemahnya peristaltik usus. Penelitian Chu, dkk menunjukkan sebanyak 2699 (18,1%) dari 14893 lansia di China mengalami konstipasi. Study Roque dan Ernest juga melaporkan bahwa kejadian konstipasi kronis lebih tinggi 20% pada populasi lansia dibandingkan dengan populasi yang lebih muda. Penelitian Blekken, dkk juga menunjukkan 23,4% dari 261 lansia pada sebuah panti jompo di Norwegia mengalami sembelit dan 67,1% dari penderita menggunakan obat pencahar secara teratur2.
Pada tahun 2020-2025, Indonesia akan menduduki peringkat Negara dengan struktur dan jumlah penduduk lanjut usia setelah RRC, India, dan Amerika Serikat, dengan umur harapan hidup di atas 70 tahun. Menurut data demografi penduduk internasional yang dikeluarkan Bureau of the cencus USA 1993, dilaporkan bahwa Indonesia pada tahun 1990-2025 akan mengalami kenaikan jumlah lansia sebesar 4,4 persen, merupakan suatu angka tertinggi di seluruh dunia (Nugroho)3.
Adapun data yang diperoleh Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan jumlah usia lanjut sebanyak 1. 248. 436 jiwa usia lanjut di kota Makassar (Arbianto, 2013). Berdasarkan data lansia yang didapat dari panti sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kab. Gowa Tahun 2013, terdapat lansia berjumlah 100 orang terdiri dari laki-laki 39 orang dan perempuan 61 orang. Lansia di sana rata-rata berumur minimal 60 tahun3
Terapi modalitas merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang bagi lansia (Maryam, 2008). Terapi modalitas juga berarti suatu kegiatan dalam memberikan asuhan keperawatan baik di institusi pelayanan maupun di masyarakat yang bermanfaat bagi kesehatan lansia dan berdampak terapeutik. Tujuan spesifik dari terapi modalitas menurut Gostetamy (1973) yaitu 1) menimbulkan kesadaran terhadap salah satu perilaku klien, 2) mengurangi gejala, 3) memperlambat kemunduran, 4) membantu adaptasi dengan situasi yang sekarang, 5) membantu keluarga dan orang-orang yang berarti, 6) mempengaruhi keterampilan merawat diri sendiri, 7) meningkatkan aktifitas, 8) meningkatkan kemandirian (Riyadi dan Purwanto, 2009)3.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan defenisi konstipasi
2. Faktor-faktor penyebab konstipasi pada lansia
3. bagaimana manifestasi klinis konstipasi pada lansia
4. apa saja komplikasi nya
5. apa yang dimaksud dengan senam Tai chi
6. bagaimana manfaat senam Tai chi
Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui proses terjadinya konstipasi
2. mahasiswa mengetahui proses mencegah dan mengurangi komplikasi konstipasi pada lansia
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep Lansia
1. Pengertian Lansia
Lanjut usia adalah seseorang yang usianya mengalami perubahan biologis, fisik dan kejiwaan. Perubahan ini akan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan lanjut usia termasuk kesehatannya. Oleh karena itu, kesehatan lanjut usia perlu mendapat perhatian khusus dengan tetap dipelihara dan ditingkatkan agar dapat hidup secara produktif sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat ikut berperan aktif dalam pembangunan (Fatimah, 2010 dalam Ismayadi, 2015). Lansia adalah kelompok penduduk berusia tua. Golongan penduduk yang banyak mendapatkan perhatian atau pengelompokan tersendiri ini adalah usia 60 tahun atau lebih (Bustan, 2015 dalam Ismayadi, 2015)4.
Lanjut usia adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan struktur dan fungsi secara normal, ketahan terhadap injury termasuk adanya infeksi (Paris Constantinides, 1994, dalam Mubarak dkk 2006)3.
Dalam Islam menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari bayi yang lemah kemudian tumbuh menjadi dewasa yamg kuat, seiring berjalannya waktu akan menjadi tua rentah yang lemah. Itu sudah kodrat manusia yang tidak bisa dihindari3.
Terjemahnya : Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Al-Rum : 34)
Di dalam ayat ini menjelaskan bahwa seorang manusia semakin bertambah umurnya maka kemampuannya akan semakin berkurang dengan kata lain kembali menjadi lemah. Seperti saat dahulu ketika bayi, manusia lemah dan tidak memiliki pengetahuan, lalu dari hari ke hari ia menjadi kuat dan banyak tahu, selanjutnya bila usianya menanjak hingga mencapai batas tertentu dikembalikan Allah menjadi pikun, lemah, serta membutuhkan bantuan orang banyak. Itulah tanda kekuasaan Allah SWT yang tidak dapat diingkari keberadaannya.
2. Batasan-batasan Lansia
Menurut Nugroho (2000) dalam Muhith & Siyoto (2016), WHO mengelompokkan lansia menjadi 4 kelompok yang meliputi:
Usia pertengahan (Midle age) yaitu kelompok usia 45 sampai 59 tahun
Lanjut usia (Elderly) yaitu antara 60 dan 74 tahun
Lanjut usia tua (Old) yaitu antara 75 dan 90 tahun
Usia sangat tua (Very old) yaitu usia diatas 90 tahun.4
Selain itu, dibawah ini dikemukakan beberapa pendapat lain mengenai siklus hidup manusia (Stanley,M.,2006 dalam Muhith & Siyoto, 2016):
Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad (alm), Guru Besar Universitas Gadjah Mada Fakultas Kedokteran, membagi periodesasi biologis perkembangan sebagai berikut:
1 tahun = masa bayi
1-6 tahun = masa prasekolah
6 -10 tahun = masa sekolah
10-20 tahun = masa pubertas
40-65 tahun = masa setengah umur (prasenium)
65 tahun keatas = masa lanjut usia (senium)
Menurut Prof.Dr.Koesoemato Setyonegoro
Pengelompokkan lanjut usia sebagai berikut : (1) usia dewasa muda 1)
(elderly adulhood), 18/20 tahun-25 tahun, (2) usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas, 25 tahun-60/65 tahun, (3) lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65/70 tahun. Geriatric age terbagi menjadi young old (70 tahun- 75 tahun), old (75 tahun-80 tahun), dan very old (lebih dari 80 tahun)4.
Berdasarkan beberapa teori diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa batasan lanjut usia (khususnya secara umum di Indonesia) dapat dimulai dari usia kronologis setelah dewasa akhir, yang dimulai dari usia 60 tahun4. Hal ini dipertegas dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada Bab 1 pasal 1 Ayat 2.3
3. Tipe Lanjut Usia
Menurut Maryam (2008) dalam Ismayadi (2015), beberapa tipe lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, dan ekonominya.
Tipe arif bijaksana
Tipe lansia ini kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, dan menjadi panutan
Tipe mandiri
Tipe lansia ini mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.
Tipe tidak puas
Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut.
Tipe pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan melakukan pekerjaan apa saja
Tipe bingung Kaget, Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif, dan acuh tak acuh.
4. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan
Menurut Bandiyah (2009) dalam Muhith & Siyoto (2016), faktor- faktor yang mempengaruhi ketuaan yaitu:
Herediter atau Genetik
Kematian sel merupakan seluruh program kehidupan yang dikaitkan
dengan peran DNA yang penting dalam mekanisme pengendalian fungsi sel. Secara genetik, perempuan ditentukan oleh sepasang kromosom X sedangkan laki-laki oleh satu kromosom X. Kromosom X ini ternyata membawa unsur kehidupan sehingga perempuan berumur lebih panjang daripada laki-laki.
Nutrisi/Makanan
Status kesehatan
Lingkungan
Pengalaman hidup
Paparan sinar matahari: kulit yang tak terlindungi sinar matahari akan mudah ternoda oleh flek, kerutan, dan menjadi kusam
Kurang olahraga: olahraga membantu pembentukan otot dan menyebabkan lancarnya sirkulasi darah.
Mengonsumsi alkohol: alkohol dapat memperbesar pembuluh darah kecil pada pada kulit dan menyebabkan peningkatan aliran darah dekat permukaan kulit.
Tekanan kehidupan sehari-hari dalam lingkungan rumah, pekerjaan, ataupun masyarakat yang tercermin dalam bentuk gaya hidup akan berpengaruh terhadap proses penuaan.
5. Perubahan - Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Menurut (Muhith & Siyoto, 2016), perubahan yang terjadi pada lansia
adalah sebagai berikut :
Sel
Pada lansia, jumlah akan lebih sedikit dan ukurannya akan lebih besar. Cairan tubuh dan cairan intraseluler akan berkurang. Proporsi protein di otak,otot, ginjal, darah, dan hati juga ikut berkurang. Jumlah sel otak akan menurun. Mekanisme perbaikan sel akan terganggu dan otak akan menjadi atropi.
Sistem persarafan
Rata-rata berkurangnya saraf neucortial sebesar 1 per detik. Hubungan persarafan cepat menurun. Lambat dalam merespon, baik dari gerakan maupun jarak waktu, khusus dengan stress. Mengecilnya saraf panca indra, serta menjadi kurang sensitif terhadap sentuhan.
Sistem perdengaran
Gangguan pada pendengaran, Terjadi pengumpulan dan pergeseran serumen karena peningkatan keratin, Pendengaran akan menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa atau stress.
Sistem penglihatan
Timbul sklerosis pada sfingter pupil dan hilangnya respons terhadap sinar, Kornea lebih berbentuk seperti bola (sferis), Lensa lebih suram dapat menyebabkan katarak, Pengamatan sinar dan daya adaptasi terhadap kegelapan menjadi lebih lambat dan sulit untuk melihat dalam keadaan gelap, Menurunnya lapang pandang dan menurunnya daya untuk membedakan antara warna biru dengan hijau pada skala pemeriksa.
Sistem kardiovaskuler
Sistem pernafasan
Sistem gastrointestinal
Kehilangan gigi, indera pengecapan mengalami penurunan, Sensitivitas akan rasa lapar menurun.
Sistem genitourinaria.
Ginjal mengecil, Otot-otot kandung kemih melemah,
Sistem endokrin
Sistem integument
Kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak, Permukaan kulit kasar dan bersisik, Kulit kepala dan rambut menipis serta berwarna kelabu.
Sistem musculoskeletal
Tulang kehilangan kepadatan (density) dan semakin rapuh, Tendon mengkerut dan mengalami sklerosis, Atropi serabut otot sehingga gerak seseorang menjadi lambat, otot-otot kram dan menjadi tremor.
Defenisi Konstipasi
Berdasarkan NANDA, konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi pada seseorang yang disertai dengan pengeluaran feses yang sulit, tidak tuntas, keras, dan kering (Herdman & Kamitsuru, 2014). Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi yang disertai dengan pergerakan feses yang menjadi lebih lambat (Stanley & Beare, 2006). Konstipasi juga didefinisikan sebagai pergerakan feses yang tertunda, kering, dan menumpuk pada usus bagian bawah (Beers & Jones, 2000 dalam Wallace, 2008).5
Faktor-Faktor Penyebab Konstipasi pada Lansia di Perkotaan
Penyebab konstipasi pada lansia antara lain obat-obatan; penyakit neuropati dan miopati; idiopatik; anoreksia; dehidrasi; defekasi yang ditahan; diet yang tidak adekuat, rendah serat, tinggi protein, bahkan serat yang berlebihan; hiperglikemi; hipokalemi; hipotiroid; gangguan psikologis; gaya hidup kurang gerak; serta gangguan pada saraf pusat (Gallegos-Orozco, Foxx-Orenstein, Sterler, & Stoa, 2012). Penyalahgunaan obat-obatan narkotik pada lansia di perkotaan menyebabkan konstipasi (Allender, 2011). Jenis obat-obatan lain yang menyebabkan konstipasi pada lansia yaitu antara lain anabolik steroid, analgesik, antiinflamasi nonsteroid, antikolinergik, antikonvulsan, antidepresan, antihistamin, antihipertensi, antiparkinson, diuretik, dan obat-obatan yang mengandung ion logam (Gallegos-Orozco, Foxx- Orenstein, Sterler, & Stoa, 2012).5
Gangguan mobilisasi, pengonsumsian obat pencahar dalam waktu yang lama, serta kurangnya asupan cairan juga menyebabkan konstipasi pada lansia (Miller, 2012). Kebiasaan duduk terus-menerus menyebabkan konstipasi (Anonymous, 2008). Stanley dan Beare (2006) juga menyebutkan bahwa konstipasi pada lansia disebabkan oleh menurunnya kekuatan dan tonus otot. Selain itu, konstipasi pada lansia juga dapat disebabkan karena kurangnya privasi saat defekasi (Wallace, 2008). Menurut Chu, Zhong, Zhang, Zhang, dan Hou (2014), perbedaan kejadian konstipasi di beberapa negara maju diakibatkan karena perbedaan pola diet serat dan tingkat aktivitas fisik.5
Manifestasi Klinis Konstipasi pada Lansia Tanda
Tanda dan gejala konstipasi yaitu adanya perasaan tidak tuntas terhadap feses yang dikeluarkan (Miller, 2012). Frekuensi normal defekasi pada lansia yaitu setiap tiga hari hingga seminggu sekali atau dua kali, sedangkan pada lansia dengan konstipasi, defekasi terjadi lebih lama dari waktu tersebut (Miller, 2012).5
komplikasi
Impaksi atau feses yang menumpuk dan mengeras dapat disebabkan karena konstipasi, kemudian impaksi feses tersebut dapat mengakibatkan gangguan eliminasi urin berupa inkontinensia ataupun retensi urin (Woodward, Moran, Elliott, Laurens, & Saunders, 2002). Pada lansia, konstipasi menyebabkan gangguan perkemihan akibat dari penumpukan feses pada kolon bagian bawah dan rektum (Ginsberg, Phillips, Wallace, & Josephson, 2007). Konstipasi pada lansia juga menyebabkan gangguan anorektal seperti hemoroid, prolaps rektum, dan volvulus sigmoid (Chu, Zhong, Zhang, Zhang, & Hou, 2014).5
Pengertian Senam Tai Chi
Tai Chi Chuan atau sering dikenal sebagai Tai Chi adalah seni bela diri China yang sifatnya internal. Yang dimaksud internal adalah untuk melatih nei gong/ internal power atau “tenaga dalam” sebagai lawan dari latihan wai gong / external power atau “tenaga luar”. Senam Tai Chi adalah latihan yang menyeluruh, tidak hanya membina kaki, tangan dan tubuh saja melalui berbagai gerakan, tetapi juga memperkuat organ dalam dan pemusatan pikiran. Dalam perkembangannya, ada banyak gaya atau bentuk yang sudah diciptakan, baik tradisional maupun modern. Pada masa kini, Tai Chi sudah menyebar ke seluruh dunia, walaupun begitu perkembangan gaya atau bentuk modern bisa dilacak ke lima perguruan besar tradisional, yaitu:
1. Chen Style (dikembangkan oleh Chen Wang Ting, 1580-1660),
2. Yang Style (dikembangkan oleh Yang Lu Ch‟an, 1799-1872),
3. Wu/Hao (dikembangkan oleh Wu Yu-hsiang, 1812-1880),
4. Wu Style (dikembangkan oleh Wu Chien-ch‟ΰan, 1870-1942) dan
5. Sun Style (dikembangkan oleh Sun Lu-t‟ang, 1861-1932).
(http://en.wikipedia.org/wiki/Tai_Chi_Chuan) dalam Arifin (2012).4
Walaupun Tai Chi di masyarakat dikenal sebagai gerakan yang lambat, tetapi gaya Yang, Wu dan Chen mempunyai bentuk sekunder dan ritme yang cepat. Melalui promosi Yang, Wu dan Sun pada permulaan abad 20, Tai Chi berkembang keseluruh dunia diantara masyarakat yang tidak tertarik pada bela diri, melainkan terutama pada manfaat kesehatan yang dihasilkan oleh latihan Tai Chi. Dengan memfokuskan pikiran hanya pada gerak dan bentuk, akan memberikan ketenangan batin.
Inti latihan Tai Chi terdiri atas dua jenis, yaitu pertama bentuk solo atau bergerak sendirian, melakukan urutan gerakan dengan tulang punggung tegak, pernafasan perut dan range of motion yang alamiah. Yang kedua adalah bentuk berpasangan, melakukan pushing hands atau tangan mendorong (tui shou), untuk melatih bela diri. Mempraktekkan gerakan sendirian secara berulang-ulang dapat memperbaiki postur tubuh, sirkulasi tubuh dan fleksibilitas sendi (http://en.wikipedia.org/wiki/Tai_Chi_Chuan) dalam Arifin (2012).4
Tai Chi dipercaya diciptakan oleh pendeta Tao; Zhang Sanfeng di abad 12, pada waktu yang bersamaan dengan zaman Konfusius. Filosofi Tai Chi adalah meniru filosofi yang diajarkan oleh Lao Tsu, yang dalam bukunya Dao De Jing/ Tao Te Ching, mengatakan bahwa yang lunak dan lentur akan mengalahkan yang kuat dan keras (http://en.wikipedia.org/wiki/ Tai_Chi_Chuan). Kelembutan dalam ajaran Tao bukan saja pada pernafasan, namun juga dalam hal perilaku (Wang, 2009 dalam Arifin, 2012).4
1. Efek Senam Tai Chi
Menurut Teramihardja (2008) dalam Arifin (2012), para pelaku Tai
Chi memperlihatkan peningkatan pengeluaran noradrenalin dalam urine dan penurunan konsentrasi kortisol saliva, sehingga latihan Tai Chi kemungkinan dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan oksigen dalam darah, depresi, keletihan dan kecemasan.
2. salah satu gerakan senam taichi untuk mengatasi konstipasi
Gerakan dua purnama
Salah satu teknik yang dikenal dalam tai chi adalah gerakan dua purnama. Dua purnama merupakan gerakan yang dilakukan dengan cara mengangkat bagian tangan ke bagian depan. Kedua buah lengan diangkat dengan posisi sejajar lurus yang kemudian digerakkan ke arah samping badan. Turunkan bagian tangan ke arah belakang hingga kembali ke sisi semula.
Jika diperhatikan gerakan ini membentuk dua purnama yang melingkar sempurna. Anda dapat mengulangi gerakan dua purnama ini hingga 6 kali gerakan atau bisa juga lebih. Setelah itu kembalikan posisi kedua belah tangan dalam keadaan seperti semula.6
Postur Beruang
Terdapat dua gerakan kunci pada postur beruang, yakni memutar pinggang seperti beruang dan berayun seperti beruang. Gerakan ini secara umum meningkatkan sirkulasi qi di limpa dan perut, mengendurkan sendi pinggul, menguatkan otot pinggang, menguatkan otot-otot kaki, menjaga keseimbangan, organ perut bagian dalam, pencernaan, menambah nafsu makan, serta mencegah sembelit.
Gerakan memutar pinggang seperti beruang berfokus menciptakan lingkaran vertikal pada pinggang, kemudian tangan, lengan, bahu, dan kepala mengikuti gerakan pinggang. Gerakan bergoyang seperti beruang berfokus untuk menciptakan stabilitas tubuh bagian bawah dalam posisi jongkok. Pinggang mendorong rotasi tubuh yang menciptakan lengan yang berayun.6
Manfaat Senam Taichi
Jika gerakan-gerakan Tai Chi ini rutin dilakukan setiap hari, kita akan merasakan manfaat yang luar biasa, tak hanya untuk meningkatkan kebugaran tubuh sekaligus menyembuhkan sejumlah penyakit, namun juga menghilangkan stress, mengurangi kecemasan dan depresi,serta meningkatkan konsentrasi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Lanjut usia adalah seseorang yang usianya mengalami perubahan biologis, fisik dan kejiwaan. Perubahan ini akan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan lanjut usia termasuk kesehatannya. Oleh karena itu, kesehatan lanjut usia perlu mendapat perhatian khusus dengan tetap dipelihara dan ditingkatkan agar dapat hidup secara produktif sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat ikut berperan aktif dalam pembangunan (Fatimah, 2010 dalam Ismayadi, 2015). Lansia adalah kelompok penduduk berusia tua. Golongan penduduk yang banyak mendapatkan perhatian atau pengelompokan tersendiri ini adalah usia 60 tahun atau lebih (Bustan, 2015 dalam Ismayadi, 2015)
Berdasarkan NANDA, konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi pada seseorang yang disertai dengan pengeluaran feses yang sulit, tidak tuntas, keras, dan kering (Herdman & Kamitsuru, 2014). Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi yang disertai dengan pergerakan feses yang menjadi lebih lambat (Stanley & Beare, 2006). Konstipasi juga didefinisikan sebagai pergerakan feses yang tertunda, kering, dan menumpuk pada usus bagian bawah.
Senam Tai Chi adalah latihan yang menyeluruh, tidak hanya membina kaki, tangan dan tubuh saja melalui berbagai gerakan, tetapi juga memperkuat organ dalam dan pemusatan pikiran.
Saran
Kami menyarankan kepada pembaca agar makalah ini dapat dimengerti dan dipahami dengan baik, sehingga kita dapat mengetahui tentang senam taichi bisa digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit, salah satunya yaitu konstipasi pada lansia. Dan makalah ini juga dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk menambah ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Peran keluarga dalam mencegah konstipasi pada lansia di Dukuh Desa Gandu Kepuh Kecamatan Sukorejo. 2011;11(2):10-14.
2. Sitorus M, Malinti E. AKTIVITAS FISIK DAN KONSTIPASI PADA LANSIA ADVENT DI BANDUNG. J Ilm Kesehat Diagnosis. 2019;14(4):381-384. doi:10.35892/jikd.v14i4.296
3. Hamzah H. Pengaruh Terapi Modalitas Okupasi terhadap Tingkat Kemandirian Lansia di Panti Sosial Tresna Wedha Gau Mabaji Kab. Gowa. Fak Ilmu Kesehat UIN Alauddin Makassar. 2014:34-43. http://repositori.uin-alauddin.ac.id/6823/1/Herni Hamzah_opt.pdf.
4. Triyanto J, Janjua PZ, Samad G, et al. Pengaruh senam tai chi terhadap penurunan insomnia pada lansia. J Sains dan Seni ITS. 2017;6(1):51-66. http://repositorio.unan.edu.ni/2986/1/5624.pdf%0Ahttp://fiskal.kemenkeu.go.id/ejournal%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.cirp.2016.06.001%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.powtec.2016.12.055%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.ijfatigue.2019.02.006%0Ahttps://doi.org/10.1.
5. WULANDARI A. Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Konstipasi Melalui Massase Abdomen, Posisi Defekasi, Dan Pemberian Cairan. 2016. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/2017-2/20434729-PR-Andini Wulandari.pdf.
6. CNN Indonesia | Minggu 12/01/2020 11:02 WIB. Teknik Gerakan Tai Chi yang Bagus untuk Kesehatan. CNN Indones | Minggu, 12/01/2020 1102 WIB. 2020;2(1). doi:10.22219/physiohs.v2i1.10535
Link video senam taichi
https://youtu.be/D9vHjj0onLo
Komentar
Posting Komentar