ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA NY.N PADA TAHAP AGING FAMILY MEMBER (KELUARGA LANJUT USIA )
ASUHAN
KEPERAWATAN KELUARGA NY.N
PADA
TAHAP AGING FAMILY MEMBER
(KELUARGA
LANJUT USIA )

OLEH
INDAYANTI
HUDIN
S.0017.
P.018
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES KARYA KESEHATAN
KEBDARI
2021
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah atas berkat dan rahmat
Allah SWT yang telah memberikan kesehatan sehingga kami bisa masih bisa menyelesaikan tugas makalah ini
guna memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan keluarga dan tidak lupa juga kami
ucapkan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah yang telah memberi tugas ini
sehingga kami dapat mengetahui dan
memahami isi makalah tersebut.
Semoga dengan adanya makalah
tersebut bisa memberi wawasan tentang pentingnya Profesi Perawat dalam
Masyarakat khususnya kepada saya pribadi dan teman-teman sejawat saya dan kami
menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan sehingga kami sangat mengharapkan kritikan terhadap pembaca guna
kesempurnaan penulisan makalah berikutnya. Wassalamualaikum Wr Wb.
Kendari 15 -02;2021
DAFTAR ISI
Contents
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi
adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri
yang mengangkut darah dari jantung dan memompa keseluruh jaringan dan
organ–organ tubuh secara terus–menerus lebih dari suatu periode (Irianto,
2014). Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran
selang waktu lima menit dalam keadaan cukup tenang/istirahat (Kemenkes RI,
2013). Hipertensi sering kali disebut silent killer karena termasuk yang
mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya terlebih dahulu sebagai
peringatan bagi korbannya. Gejala-gejala hipertensi yaitu adalah sakit kepala
atau rasa berat di tengkuk, vertigo, jantung berdebar, mudah lelah, penglihatan
kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan mimisan (Kemenkes RI, 2013).1
Data world health organization (WHO)
2015 menyebutkan jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat seiring
dengan jumlah penduduk yang bertambah pada tahun 2025 mendatang diperkirakan
sekitar 29% warga di dunia terkena hipertensi. World health organization (WHO)
2015 menyebutkan Negara ekonomi berkembang memiliki penderita hipertensi
sebesar 40% dibandingkan Negara maju yang hanya 35%, kawasan Afrika memegang
puncak penderita, yaitu sebesar 40%. Kawasan Amerika sebesar 35% dan Asia
Tenggara 36%. Di kawasan Asia penyakit ini telah membunuh 1,5 juta orang setiap
tahunnya. Hal ini menandakan satu dari tiga orang menderita hipertensi.2
Tingginya angka kejadian hipertensi
yang terus meningkat dan akan menyebabkan komplikasi. Penatalaksanaan
hipertensi yang tidak dilakukan dengan baik dapat menyebabkan komplikasi (Riskesdas,2013).
Apabila hipertensi tidak ditangani dengan tepat maka akan menimbulkan
komplikasi yaitu stroke, infark miokard, gagal jantung, gagal ginjal kronik dan
retinopati (Nuraini, 2015).1
Data Worlh Health Organization
(WHO), di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau 26,4% orang di seluruh
dunia mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2%
di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara
maju dan 639 sisanya berada di negara berkembang, termasuk Indonesia (Yonata,
2016). Hipertensi juga menempati peringkat ke 2 dari 10 penyakit terbanyak pada
pasien rawat jalan dirumah sakit di Indonesia. Penderitanya lebih banyak wanita
(30%) dan pria (29% ) sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terjadi terutama
dinegara berkembang (Triyanto, 2014).1
Prevalensi hipertensi di Indonesia
menurut Riskesdas tahun 2013 yang didapat melalui pengukuran pada umur ≥ 18
tahun sebesar 25,8 %. Prevelensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui
kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 %, yang didiagnosis tenaga
kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9.5 %, jadi ada 0,1 % yang minum obat
sendiri. Penyakit terbanyak pada usia lanjut berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
tahun 2013 adalah hipertensi dengan prevalensi 45,9% pada usia 55-64 tahun,
57,6% pada usia 65,74% dan 63,8% pada usia ≥ 75 tahun. Profil
Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara
tahun 2016 tercatat masih tingginya angka kejadian hipertensi. Berdasarkan data
dan informasi pengukuran tekanan darah yang terdiagnosis hipertensi/darah
tinggi tertinggi terjadi pada perempuan yaitu sebanyak 21.006 jiwa (34,47%) dan
terendah pada laki-laki sebanyak 10.811 jiwa (50,32%), total laki-laki dan
perempuan sebanyak 31.817 kasus hipertensi (38.60%). Hal ini menunjukan masih
tingginya kasus hipertensi yang terjadi di Sulawesi Tenggara.1
Bertambahnya usia mengakibatkan
tekanan darah meningkat, karena dinding arteri pada lansia akan mengalami
penebalan yang mengakibatkan penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga
pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku (Anggraini,
2009). Proses menua dapat mempengaruhi perubahan fisik dan mental yang
mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit dan yang paling sering
ditemukan pada lansia adalah penyakit hipertensi (Tamher & Noorkasiani,
2009). Penyakit hipertensi merupakan tekanan darah yang memberikan gejala
berlanjut pada target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung
koroner untuk pembuluh darah jantung dan otot jantung (Amiruddin, 2007). Gejala
klinis yang dialami oleh penderita hipertensi yaitu meliputi nyeri kepala, pusing,
susah tidur, mudah marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sesak
nafas, mata berkunang-kunang, dan mimisan (Martha, 2012). Oleh karena itu
hipertensi harus segera ditangani. Hipertensi yang terlalu tinggi merupakan
salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung dan aneurisma arterial
penyebab utama gagal jantung kronis. Upaya yang bisa dilakukan adalah pemberian
terapi farmakologi. Selain penggunaan terapi farmakologi diperlukan dan
nonfarmakologi.2
B. Tujuan penulisan
1.
Mahasiswa mengetahui proses terjadinya Hipertensi
2.
Mahasiswa mengetahui proses mencegah dan mengurangi
faktor resiko Hipertensi
3.
Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan
untuk kasus hipetrensi
C. Manfaat penulisan
1.
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan
reverensi untuk kasus Hipertensi
2.
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi
serta menambah wawasan agar lebih mengetahui apa yang dimaksud dengan Hipertensi dan sebagainya.
3.
Bagi ilmu keperawatan, makalah ini dapat dijadikan salah
satu update referensi mengenai kasus Hipertensi
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian keluarga
Keluarga
merupakan suatu arena berlangsungnya interaksi kepribadian atau sebagai sosial
terkecil yang terdiri dari seperangkat komponen yang sangat tergantung dan
dipengaruhi oleh struktur internal dan sistem-sistem lain (padila,2012).2 Keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih individu
yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota
keluarga selalu berinteraksi satu sama lain (Mubarak dkk, 2011 ). BKKBN (1999)
dalam Sudiharto (2012) menyatakan bahwa keluarga adalah dua orang atau lebih
yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan
hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa kepada tuhan, memiliki
hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta
lingkungannya.1
2.
Tipe keluarga
Mubarak (2011) membagi tipe keluarga
menjadi :
Secara tradisional dibagi menjadi dua kelompok yaitu
:
a. Keluarga Inti (Nuclear Family) adalah keluarga
yang hanya terdiri ayah, ibu dan anak
yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.
b. Keluarga Besar (Extended Family) adalah keluarga
inti ditambah anggota keluarga lain
yang masih mempunyai hubungan darah ( kakek- nenek, paman-bibi)
secara modern yaitu :
a. Commune Family adalah lebih satu keluarga tanpa
pertalian darah hidup serumah.
b. Orang tua yang tidak ada ikatan perkawinan dan
anak hidup bersama dalam satu rumah
tangga.
c. Homoseksual adalah dua individu yang sejenis
hidup bersama dalam satu rumah tangga.
3.
Struktur keluarga
Struktur
keluarga terdiri dari : pola dan proses komunikasi, strukrur peran, struktur
kekuatan dan struktur nilai dan norma (Mubarak dkk, 2011) menggambarkan sebagai
berikut :
a.
Struktur
komunikasi
Komunikasi dalam
keluarga dikatakan berfungsi apabila : jujur, terbuka, melibatkan emosi,
konflik selesai dan ada hirarki kekuatan.
b.
Struktur peran
Yang dimaksud
struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial
yang diberikan. Jadi pada struktur peran bisa bersifat formal atau informal.
c.
Struktur
kekuatan
Yang dimaksud
adalah kemampuan dari individu untuk mengontrol atau mempengaruhi atau merubah
perilaku orang lain : legitimate power (hak), referent power (ditiru), expert
power (keahlian), reward power (hadiah), coercive power (paksa) dan affective
power.
d.
Struktur nilai
dan norma nilai
Nilai adalah
sistem ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya
tertentu, sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan
sosil tertentu berarti disini adalah lingkungan keluarga dan lingkungan
masyarakat sekitar keluarga.
4.
Fungsi keluarga
Ada lima fungsi keluarga menurut (Friedman, 2010),
yaitu :
a.
Fungsi afektif
Fungsi afektif
merupakan dasar utama baik untuk pembentukan maupun untuk berkelanjutan unit
keluarga itu sendiri, sehingga fungsi afektif merupakan salah satu fungsi
keluarga yang paling penting.Peran utama orang dewasa dalam keluarga adalah
fungsi afektif, fungsi ini berhubungan dengan persepsi keluarga dan kepedulian
terhadap kebutuhan sosioemosional semua anggota keluarganya.
b.
Fungsi
sosialisasi dan status sosial Sosialisasi
Sosialisasi
merujuk pada banyaknya pengalaman belajar yang diberikan dalam keluarg yang
ditunjuk untuk mendidik anak – anak tentang cara menjalankan fungsi dan memikul
peran sosial orang dewasa seperti peran yang di pikul suami-ayah dan istri-ibu.
Status sosial atau pemberian status adalah aspek lain dari fungsi sosialisasi.
Pemberian status kepada anak berarti mewarisi tradisi.
c.
Fungsi
reproduksi. Untuk menjamin kontiniutas antar generasi kleuarga dan masyarakat
yaitu menyediakan angagota baru untuk masyarakat
d.
Fungsi perawatan
kesehatan. Fungsi fisik keluarga dipenuhi oleh orang tua yang menyediakan
makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan terhadap kesehatan dan perlindungan
terhadap bahaya.
e.
Fungsi ekonomi
melibatkan penyediaan keluarga akan sumber daya yang cukup finansial, ruang dan
materi serta alokasinya yang sesuai melalui proses pengambilan keputusan.
5.
Tahap perkembangan keluarga
Duvall & Miler (1985) ; Carter & Mc Goldrick
(1988), dalam Komang (2012) menjelaskan bahwa tugas dan tahap perkembagan
keluarga yaitu3:
a.
Tahap I :
Keluarga Pasangan Baru (beginning family)
keluarga pemula
atau pasangan baru. Tugas perkembangan keluarga pemula antara lain membina
hubungan harmonis dan kepuasan bersama dengan membangun perkawinan yang saling
memuaska, membina hubungan dengan orang lain dengan menghubungkan jaringan
persaudaraan secara harmonis, merenanakan kehamilan danmempersiapkan
dirimenjadi orang tua.
b.
Tahap II :
Keluarga Kelahiran Anak Pertama (childbearing family)
keluarga sedang
mengasuh anak (anak tertua bayi sampai umur 30 bulan). Pada tahap ini tugas
keluarga yaitu membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit, mempertahankan
hubungan perkawinan yang memuaskan, memperluas perahabatan dengan keluarga
besar dengan menambahkan peran orang tua, kakek dan nenek dan mensosialisasikan
dengan lingkungan keluarga besar masing-masing pasangan.
c.
Tahap III :
Keluarga dengan Anak Prasekolah (families with preschool)
Keluarga dengan
anak pra sekolah (anak pertama berumur 2-6 tahun). Tugas perkembangn pada
keluaga ini yaitu memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat
tinggal, privasi dan rasa aman. Membantu anak untuk bersosialisasi.Beradaptasi
dengan anaky baru lahir, sementara kebutuhan anak lain juga harus terpenuhi.
Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga maupun dengan
masyarakat.Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.Pembagian tanggung
jawab anggota keluarga.Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang
d.
Tahap IV :
Keluarga dengan Anak Sekolah (families with schoolchildren)
Tahap ini
dimulai ketika anak pertama memasuki sekolah dalam waktu penuh, biasanya pada
usia 5 tahun, dan diakhiri ketika ia mencapai pubertas, sekitar 13 tahun.
Keluarga biasanya mencapai jumlah anggota keluarga yang maksimal dan hubungan
akhir tahap ini juga maksimal. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini
adalah keluarga dapat mensosialisasikan anak-anak, dapat meningkatkan prestasi
sekolah dan mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan.
e.
Tahap V :
Keluarga dengan Anak Remaja (families with teenagers)
(anak
tertuaberumur 13-20 tahun). Tugas perkembangan keluarga ini adalah memberikan
kebebasan yang seimbnag dengan tanggung jawab. Mempertahankan hubungan yang
intim dengan keluarga. Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan
orang tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan. Perubahan sistem
peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga. merupakan tahap paling sulit
karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung
jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.
f.
Tahap VI :
Keluarga Melepaskan Anak Dewasa Muda (launching centerfamilies)
Keluarga dengan
anak dewasa dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada
saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung jumlah
anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal
bersama orang tua. Tugas perkembangan keluarga di tahap ini adalah memperluas
keluarga inti menjadi keluarga besar, mempertahankan keintiman pasangan,
membantu orang tua memasuki masa tua, Membantu anak untuk mandiri di
masyarakat, Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
g.
Tahap VII :
Orang Tua Paruh Baya (middle age families)
Keluarga usia
pertengahan dimana tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan
rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggaal. Tugas
perkembangan keluarga tahap ini yaitu mempertahankan kesehatan. Mempertahankan
hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak, meningkatkan
keakraban pasangan, fokus mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet
seimbang, olah raga rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan lain sebagainya.
h.
Tahap VIII :
Keluarga Lansia dan Pensiunan (Tahap aging family member)
Tahap terakhir
perkembangan keluarga ini adalah dimulai pada saat pensiunan salah satu atau
kedua pasangan, berlanjut sampai kehilangan salah satu pasangan, dan berakhir
dengan kematian pasangan yang lain. Tugas perkembangan keluarga pada tahap
terakhir ini adalah mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan dan
kembali kerumah setelah individu pensiun/berhenti bekerja dapat menjadi
problematik.3
6.
Defenisi lansia
Usia
lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu
periode di mana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang
lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat. Secara
biologis lansia adalah proses penuaan secara terus menerus,
yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik
yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan
kematian (Wulansari, 2011).3
Batasan usia lansia menurut WHO meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok
usia 45 sampai 59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) : antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) : antara 75 dan 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun
BatasanLansiamenurutDepkes RI (2009) meliputi:
a. Menjelangusialanjut (45-54 thn) : masavibrilitas
b. Kelompokusialanjut (55 – 64 thn) : masapresenium
c. Kelompokusialanjut (> 64 thn) : masasenium
7.
Proses menua
Proses
menua menurut (Santi, 2009), (aging) adalah suatu keadaan alami selalu berjalan
dengan disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang
saling berinteraksi. Hal tersebut berpotensi menimbulkan masalah kesehatan
secara umum maupun kesehatan jiwa. Secara individu, pada usia di atas 55 tahun terjadi
proses menua secara alamiah. Menua didefinisikan sebagai perubahan progresif
pada organisme
yang
telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan
adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan
adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling
berinteraksi satu sama lain. Proses menua yang terjadi pada lansia secara
linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan (impairment),
keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability)
dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses
kemunduran.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi
adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri
yang mengangkut darah dari jantung dan memompa keseluruh jaringan dan
organ–organ tubuh secara terus– menerus lebih dari suatu periode (Irianto,
2014).1
Hipertensi
dapat di definisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya
di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada populasi
lansia, hipertensi di definisikan sebagai tekanan sistolik > 160 mmHg dan
tekanan diastolik > 90 mmHg. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah
sistolik sedikitnya 140 mmHg atau
Tekanan
diastoliknya sekitar 90 mmHg (Price, 2005). Peningkatan tekana darah yang
melebihi tekanan darah normal seperti apa yang di sepakati oleh para ahli yaitu
> 140/90 mmHg (Sudoyo, 2006). Hipertensi suatu keadaan ketika seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang meningkatkan
peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mordalitas)
(Kushariyadi dalam Reny, 2014).2
1.
Klasifikasi
hipertensi
Klasifikasi
tekanan darah sistolik dan diastolik dibagi menjadi empat klasifikasi
(Smeltzer, 2012), yaitu :
Tabel 2.1
Kalsifikasi Hipertensi Berdasarkan Tekanan Darah Sistolik Dan Diastolik
|
kategori |
TD
Sistolik (mmHg) |
TD
Diastolik (mmHg) |
|
Normal
Prahipertensi
Stadium
I Stadium
II |
<120 mmHg 120 – 139
mmHg 140 – 159
mmHg 160 mmHg |
< 80 mmHg 80 – 89 mmHg 90 – 99 mmHg 100 mmHg |
Sumber :
Smeltzer, et al, 2012
Hipertensi juga
dapat diklasifikasi berdasarkan tekanan darah orang dewasa menurut Triyanto
(2014), adapun klasikasi tersebut sebagai berikut:
Tabel 2.2
Klasfikasi Hipertensi Berdasarkan Tekanan Darah Pada Orang Dewasa.
|
kategori |
TD
sistolik (mmHg) |
TD
diastolic (mmHg) |
|
Normal Normal
tinggi Stadium
1 (ringan) Stadium
2 (sedang) Stadium
3 (berat) Stadium
4 (maligna) |
< 130
mmHg 130 – 139
mmHg 140 – 159
mmHg 160 – 175
mmHg 180 – 209
mmHg 210 mmHg |
< 85 mmHg 85 – 89 mmHg 90 – 99 mmHg 100 – 109
mmHg 110 – 119
mmHg 120 mmHg |
Sumber : Triyanto, 2014
Pada umumnya hipertensi tidak
mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respons
peningkatan curah jantung atau peningkatan tekanan perifer. Akan tetapi, ada
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi.
1. genetik respon neurolohi terhadap stess atau
kelainan sekresi atau respon Na.
2. Obesitas terkait dengan tingkat insulin yang
tinggi yang meningkatkan tekanan darah meningkat.
Karna kondisi ini mengganggu metabolisme lemak serta meningkatkan kolesterol
dan trigliserida. Pada akhirnya resistensi insulin mengakibatkan peningkatan
lemak tubuh dan obesitas.
3. Stress karena lingkungan
4. Hilangnya elastis jaringan dan arterosklerosis
pada orang tua serta pelebaran pembuluh darah.
Pada orang lanjut usia, penyebab
hipertensi di sebabkan terjadinya perubahan pada elastisitas dinding aorta
menurun, katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa
darah, kehilangan elastisitas pembuluh darah, dan meningkatkan resistensi
pembuluh darah perifer. Setelah usia 20 tahun kemampuan jantung memompa darah
menurun 1% tiap tahun sehingga menyebabkan menurunya kontraksi dan volume.
Elastisitas pembuluh darah menghilang karena terjadi berkurangnya efektifitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenasi (Reny, 2014).2
Klien yang menderita hipertensi
terkadang tidak menampakan gejala hingga bertahun-tahun. Jika ada gejala
menunjukkan adanya kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai
sistem organ yang divaskulasrisasikan oleh pembuluh darah bersangkutan.
Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia
(paningkatan urinasi pada malam hari) dan azetoma (peningkatan nitrogen pada
urea darah dan kreatinin). Pada pemeriksaan fisik, tidak di jumpai kelainan
apapun selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula di temukan perubahan
pada retina, seperti perdarahan, eksudat, penyempitan pembuluh darah, dan pada
kasus berat, edema pupil (edema pada diskus optikus).
Keterlibatan
pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemiak transien
(transient ischemic attac, TIA) yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara
pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam pengelihatan (Smelzter, 2002
dalam Reny, 2014).2 Gejala umum yang di timbulkan akibat menderita
hipertensi tidak sama pada setiap orang, bahkan terkadang timbul tanpa gejala.
Secara umum gejala yang di keluhkan oleh penderita hipertensi sebagai berikut :
1. Sakit kepala
2. Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk
3. Perasaan berputar seperti tujuh keliling serasa
ingin jatuh
4. Berdebar atau detak jantung terasa cepat
5. Telinga berdengung
Gejala
lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi, yaitu pusing, muka merah,
sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal
dan lain-lain (Novianti, 2002 dalam Reny, 2014).
Mekanisme yang mengontrol kontriksi
dan relaksasi pembuluh darah terletak di
vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor
ini bermula jaras saraf simpatis yang berlanjut kebawah ke korda spinalis di
thoraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor di hantarkan dalam bentuk
implus yang bergera melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada
titik ini, neuron preganglion melepaskan asetikolin, yang akan merangsang
serabut saraf pasca gangkion ke pembuluh darah di mana dengan di leparkannya
nereeprinnepin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap
rangsang vasopenefrin, meskipun tidak di ketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut dapat terjadi.
Pada
saat bersamaan di mana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal
juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medul adrenal
mensekresi kartisol an steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons
vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokontrikso yang mengakibatkan penurunan
aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan
angiotensin I yang kemudian di ubah menjadi angiotensin II, suatu
vasokontriktor kuat yang pada gilirannya merengsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus
ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor ini
cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Reny, 2014).
Untuk
pertimbangan gerontologi, perubahan struktural dan fungsional pada
sistem
pembuluh darah perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang
terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,
hilanganya elastisitas jaringan ikat dan penurunan alam relaksasi otot polos
pembuluh darah yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya
rengang pembuluh darah. Konsenkuensinya aorta dan arteri berkurang kemampuannya
dalam mengakomodasi volume darah yang di pompa oleh jantung (volume cukup),
mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Padila,
2013).
1.
Hemoglobin / hematokrit : mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan
(viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti
hipokoagulabilitas, anemia.
2. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang
perfusi/fungsi ginjal.
3. Glukosa : Hiperglikemia (diabetes melitus adalah
pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin
(meningkatkan hipertensi).
4. Kalium serum : hipokalemia dapat mengindikasikan
adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
5. Kalsium serum : peningkatan kadar kalsium serum
dapat meningkatkan hipertensi.
6. Kolesterol dan trigeliserida serum : peningkatan
kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa
(efek kardiofaskuler)
7. Pemeriksaan tiroid : hipertiroidisme dapat
mengakibatkan vasikonstriksi dan hipertensi.
8. Kadar aldosteron urin dan serum : untuk menguji
aldosteronisme primer (penyebab).
9. Urinalisa : darah, protein dan glukosa
mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes.
10. VMA urin (metabolit katekolamin) : kenaikan
dapat mengindikasikan adanya feokomositoma (penyebab); VMA urin 24 jam dapat
digunakan untuk pengkajian feokromositoma bila hipertensi hilang timbul.
11. Asam urat: hiperurisemia telah menjadi implikasi
sebagai faktor resiko terjadinya hipertensi.
12. Steroid urin : kenaikan dapat mengindikasikan
hiperadrenalisme, feokromositoma atau disfungsi ptuitari, sindrom Cushing’s;
kadar renin dapat juga meningkat.
13. IVP : dapat mengidentifikasi penyebab
hipertensi, seperti penyakit parenkim ginjal, batu ginjal dan ureter.
14. Foto dada : dapat menunjukkan obstruksi
kalsifikasi pada area katub; deposit pada dan/ EKG atau takik aorta; perbesaran
jantung.
15. CT scan : mengkaji tumor serebral, CSV,
ensevalopati, atau feokromositoma.
16. EKG: dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola
regangan, gangguan konduksi. Catatan : Luas, peninggian gelombang P adalah
salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. (Anonim, 2013)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
I.
Pengkajian keluarga
A.
Data umum dan kondisi kesehatan keluarga
|
Puskesmas |
: |
|
Alamat
|
: |
jln.
Abdul Wahab |
Hari/tanggal |
: |
01
– 02 - 2021 |
|
Nama
KK |
: |
Ny.
N |
Usia
|
: |
60
th |
pengkajian |
|
|
|
pendidikan |
: |
SD |
Pekerjaan
|
: |
ART |
|
|
|
1. Komposisi keluarga
|
No |
Nama Anggota
Keluarga |
Hub. Keluarga |
L/P |
Umur (th) |
Pendidikan |
Agama |
Suku |
Pekerjaan |
Imunisasi (L/TL) |
KB |
Alat bantu, ptotesa |
Keadaan umum (sehat/tidak sehat) |
Riwayat penyakit & alergi |
|
1. |
Ny. N |
Istri |
p |
60 th |
SD |
Islam |
Bugis |
ART |
L |
tidak |
- |
baik |
- |
|
2. |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2. jarak untuk mencapai pelayanan
kesehatan terdekat
|
Fasilitas Kesehatan |
|
Jarak |
|
Cara
tempuh |
||
|
1.
Puskesmas |
: |
1 km |
|
1.
Jalan kaki |
: |
………. |
|
2.
Puskesmas Pembantu |
: |
……….m |
|
2.
Sepeda |
: |
………. |
|
3.
Posyandu |
: |
……….m |
|
3.
Motor roda 2 |
: |
………. |
|
4.
Lain-lain, Bidan swasta
|
: |
……….m |
|
4.
Motor roda 4 |
: |
ya |
|
|
|
|
|
5.
Perahu |
: |
- |
3. Genogram (3 generasi)

![]()
![]()
![]()
Keterangan :
: laki – laki
![]()
:
perempuan
![]()
: meninggal
? : tidak diketahui
: garis keturunan
: tinggal serumah
4. tipe keluarga
Ny. N termasuk tipe
keluarga tunggal dimana Ny. N berusia 60 tahun dan suaminya telah meninggal
dunia.
B.
Pengkajian individu
|
No |
Data |
Ny. N |
|
1.
|
Keadaan
umum : |
Baik |
|
Penampilan |
baik |
|
|
BB |
55 kg |
|
|
TB |
160 cm |
|
|
Status Gizi |
Baik |
|
|
Diagnosa medis |
Hipertensi |
|
|
Masalah kesehatan yang pernah dialami |
Stroke |
|
|
Masalah
kesehatan sekarang |
Hipertensi |
|
|
Masalah
kesehatan yang lalu |
- |
|
|
Masalah
kesehatan keluarga (turunan) |
Hipertensi dan
stroke |
|
|
2.
|
TTV
: |
|
|
Nadi |
90 x/m |
|
|
TD |
160/100 mmHg |
|
|
Respirasi |
20 x/m |
|
|
Suhu |
36,7 ͦ C |
|
|
CRT |
- |
|
|
3.
|
Mata
: |
|
|
Sclera |
Baik |
|
|
Konjungtiva |
Tidak anemis |
|
|
4 |
Palpebra |
Tidak ada |
|
Fungsi |
Baik |
|
|
5 |
Telinga
: |
|
|
Bentuk |
Normal |
|
|
Keadaan |
Bersih |
|
|
Fungsi |
Baik |
|
|
6 |
Hidung
: |
|
|
Bentuk |
Simetris |
|
|
Keadaan |
Bersih |
|
|
Fungsi |
Baik |
|
|
7 |
Mulut
: |
Baik |
|
Gigi |
Bersih |
|
|
Fungsi
menelan |
Baik |
|
|
Kelembaban |
Mukosa lembab |
|
|
8 |
Leher
: |
|
|
Pembengkakan kelenjar tiroid |
Tidak ada |
|
|
9 |
Dada
: |
|
|
Bentuk |
Simetris kiri
kanan |
|
|
Suara
paru |
Vesikuler |
|
|
Respirasi |
20 x/m |
|
|
Bunyi
jantung |
S1 s2 |
|
|
10 |
Abdomen
: |
|
|
Bentuk |
Datar |
|
|
Nyeri
tekan |
Tidak terdapat
nyeri |
|
|
11 |
Ekstremitas
: |
|
|
Oedema |
Tidak ada |
|
|
Kontraktur |
Tidak ada |
|
|
12 |
Istirahat dan tidur |
6 – 7 jam/hari |
|
13 |
Status mental |
Baik |
|
14 |
Kebersihan diri |
Mandi 2 -3
kali/hari |
|
15 |
Sistem
respirasi |
normal |
|
16 |
Sistem
kardiovaskuler |
Tidak ada |
|
1.
|
Sistem
pencernaan |
Baik |
|
2.
|
Sistem
urinaria |
Baik |
|
3.
|
Sistem
integument |
Baik |
|
4.
|
Sistem
persyarafan |
Baik |
|
5.
|
Sistem
muskulosketal |
Baik |
|
6.
|
Pemeriksaan penunjang bagi yang sakit (lab, radiologi,
EKG, USG) |
Tidak ada |
C.
Kesehatan lingkungan
1. karakteristik rumah

![]()
U
pintu
keterangan :
Ny.N hanya memiliki 1 kamar dan 1 wc
dan dapur
2. karakteristik lingkungan dan
komunitas tempat tinggal
a. karakteristik rumah
Tempat tinggal keluarga
Ny. N memiliki luas tanah 5 x 8 m2. Bangunan tersebut milik pribadi. Rumah Ny. N memiliki 1 kamar, 1 ruang tamu, 1
dapur, dan 1 kamar mandi. Lantai
rumah terlihat bersih, dinding rumah terbuat dari kayu, lingkungan terlihat sedikit kotor karena terdapat
dedaunan yang berjatuhan, dan lantai rumah menggunakan kayu. Ventilasi/ruangan tidak memadai karena jendela rumah
hanya ada di kamar tidak ada di ruang
tamu dan juga pintu rumah Ny. N sering tertutup. Untuk penggunaan air, keluarga Ny. N menggunakan sumber air PDAM.
Ny. N memiliki perkarangan bunga di depan
rumah dan menanam sayur-sayuran di samping rumahnya. Untuk penggunaan air keluarga Ny. N menggunakan sumber
PDAM.
b. karakteristik geografis dari
lingkungan sekitar
Keluarga tinggal di
lingkungan dengan beragam suku (Jawa, Banjar, Bugis, Kutai, dan lain-lain). Ny. N mengatakan
tetangganya orang yang ramah, mudah diajak bersosialisasi
namun sebagian besar tetangga sekitar sering tutupan.
c. Mobilitas Geografis Keluarga
Keluarga Ny. N telah
tinggal di rumah mereka sekarang dari menikah, berpisah
dari suaminya dan hingga saat ini.
d. sistem pendukung keluarga
Ny. N tinggal sendiri
dan Ny. N harus menjaga dan menyemangati diri sendiri untuk tetap sehat.
D.
Struktur keluarga
1. Pola Komuniksi Keluarga
Keluarga Ny. N untuk setiap harinya berkomunikasi
menggunakan bahasa Indonesia. Setiap ada masalah dalam keluarga Ny. N selalu
berfikir matang- matang terlebih dahulu lalu memutuskan
2. Struktur Kekuatan Keluarga
Ny.
N hanya memutuskan sendiri yang baik untuk dirinya.
3. Struktur Peran Keluarga
Ny.
N berperan sebagai Isti, ibu rumah tangga, dan pencari nafkah.
4. Nilai
dan norma keluarga
Ny.
N menganut agama Islam dan norma yang berlaku di masyarakat dan adat istiadat
lingkungan sekitar. Ny. N juga mengajarkan betapa pentingnya bersikap sopan dan
santun dengan orang lain. Apabila ny. N sakit, Ny. N mempercayai bahwa ini
adalah cobaan yang Allah berikan agar keluarga dapat kuat dan tabah.
E.
Riwayat
dan tahap perkembangan keluarga
1.
Tahap perkembangan saat ini : Ny. N merupakan tahap keluarga orang tua paruh
baya atau middle age families yang mana saat ini Ny. N berusia 60 tahun.
2.
Tugas perkembangan keluarga yang
belum terpenuhi :
Pemenuhan
kebutuhan perkembangan mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan
3. riwayat kesehatan keluarga inti
Ny.
N menikah sejak 40 tahun yang lalu dan pisah dengan suaminya kurang lebih 25
tahun yang lalu. Ny. N sudah tinggal di Samarinda sejak tahun 1950an dan hingga
saat ini. Ny. N tidak memiliki keturunan karena mandul namun Ny. N memiliki
anak angkat di Samarinda seberang yang terkadang mengunjunginya. Ny. N
mengatakan beliau mempunyai keluarga yang terkena hipertensi juga dan hingga
berkomplikasi ke stroke dan Ny. N mengatakan ia juga telah terkenal stroke
serangan pertama sekitar 2 tahun yang lalu. Pada saat stroke serangan pertama
datang Ny. N mengeluh bagian tubuhnya mengalami kelemahan sebelah kiri namun
Ny. N rajin mengikuti terapi dan sekarang anggota tubuh sebelah kirinya telah
dapat berfungsi kembali walaupun masih sedikit kaku. Ny. N mengalami nyeri di
tengkuk sejak pulang dari Kalimantan Selatan, dan Ny. N lupa untuk memeriksakan
tekanan darahnya ke puskesmas sejak kepulangannya dari Kalimantan Selatan
tersebut dan baru seminggu pada saat pengkajian Ny. N memeriksakan kondisinya. Keluhan
terjadi jika tekanan darah diatas 170/100 mmHg. Sejak saat itu Ny. N rutin
memeriksakan kesehatannya di puskesmas hingga sekarang.
4. Riwayat Keluarga Sebelumnya :
Di
keluarga Ny. N memiliki riwayat penyakit hipertensi dan stroke. Keluarga Ny. N
tidak ada yang memiliki riwayat penyakit menular dalam keluarganya.
5. latar belakang budaya keluarga
Suku
Bugis, bahasa yang digunakan sehari-hari yaitu bahasa Indonesia. Ny. N
mengatakan keluarga tidak memiliki kebiasaan khusus dalam keluarga yang
mempengaruhi status kesehatan.
6. identifikasi religius
Islam.
Kegiatan keagamaan Ny. N cukup baik. Sholat lima waktu dilakukan Ny. N, serta
Ny. N terkadang mengikuti pengajian yang di adakan di masjid dekat rumah.
F.
Status sosial ekonomi keluarga
Ny.
N bekerja sebagai tukang setrika di rumah orang dalam seminggu sekali sampai
dua kali. Selama ini Ny. N menabung untuk kebutuhan yang tidak terduga ketika
ia jatuh sakit dan penghasilan perbulannya Ny. N adalah Rp. 1.000.000,-. Ny. N
mengatakan saat ini merasa cukup dengan penghasilannya yang ada karena Ny. N
mengaku sudah tua dan mulai penyakitan jadi Ny. N merasa cukup dengan apa yang
ia dapatkan. Keluarga Ny. N memiliki fasilitas televisi, radio, tempat tidur,
dan sofa. Ny. N juga memiliki BPJS sebagai jaminan kesehatannya.
G.
Fungsi keluarga
1. fungsi afektif : Ny. N merasa bahagia dengan
hidupnya yang sekarang dan menyayangi dirinya sekarang dan juga Ny. N selalu
mengajarkan sopan santun kepada anak angkatnya jika datang mengunjungi dan
kepada siapapun yang datang ke rumahnya termasuk perawat.
2. fungsi sosial : Ny. N selalu berfikir sebelum
mengambil keputusan untuk kebaikan dirinya sendiri.
3. fungsi perawatan kesehatan
Masalah
kesehatan yang saat ini dialami oleh keluarga Ny. N adalah memiliki penyakit
hipertensi, dengan keluhan nyeri pada tengkuk menjalar hingga ke leher dengan
skala nyeri 5 seperti ditusuk-tusuk dan terjadi secara hilang timbul, pusing,
sakit kepala dan kaki kiri terkadang kram dan juga terkadang klien terlihat
berpegang pada dinding saat berjalan dan terlihat terdapat alat bantu jalan di
sudut rumah. Ketika keluhan timbul biasanya Ny. N beristirahat terlebih dahulu
jika tidak kunjung sembuh Ny. N pergi ke puskesmas terdekat. Ny. N mengatakan tidak
mengetahui banyak tentang penyakit hipertensi, penyebabnya, komplikasi, dan
cara penanganan yang di lakukan terlebih dahulu jika keluahan itu muncul. Ny. N
mengatakan rutin dating ke puskesmas terlebih jika obat anti hipertensinya
habis.
H.
Koping keluarga
1. Stressor Jangka Pendek dan Panjang
Ny.
N mengatakan kakinya kram sejak 1 tahun terakhir sejak dirinya tidak melakukan
terapi strokenya di RSUD AWS. Tetapi setelah pulang dari tempat saudara di
Sulawesi Ny. N mengeluh nyeri di tengkuk, sakit kepala, pusing dan tidak bisa
beraktivitas.
2. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Situasi atau
Stressor
Setelah
mengetahui nyeri yang di alami tidak kujung sembuh akhirnya Ny. N memutuskan
untuk memeriksakan dirinya ke puskesmas.
3. Strategi Koping yang Digunakan
Cara
menghadapi masalah ini Ny. N memikirkan matang-matang terlebih dahulu sebelum
memutuskannya.
I.
Aktivitas
Rekreasi Keluarga
Ny.
N mengatakan tidak pernah melakukan rekreasi ketempat hiburan, rekreasi yang
sering dilakukan hanya berkebun di samping rumah, menonton televisi, tidur, dan
membaca Alquran ketika merasa bosan.
J.
Harapan
Keluarga Terhadap Petugas Kesehatan
Ny. N berharap agar dirinya cepat
sembuh dan selalu diberikan kesehatan.
K.
Tingkat kemandirian keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri
dari tujuh kriteria kemampuan keluarga yang telah dicapai.
|
Kriteria 1 |
: |
keluarga menerima perawat |
|
Kriteria 2 |
: |
keluarga
menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan keluarga |
|
Kriteria 3 |
: |
keluarga tahu
dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar |
|
Kriteria 4 |
: |
keluarga
memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai anjuran |
|
Kriteria 5 |
: |
keluarga
melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran |
|
Kriteria 6 |
: |
keluarga
melakukan tidakan pencegahan secara aktif |
|
Kriteria 7 |
: |
keluarga
melakukan tidakan promotif secara aktif |
|
Tingkat
Kemandirian |
Kriteria 1 |
Kriteria 2 |
Kriteria 3 |
Kriteria 4 |
Kriteria 5 |
Kriteria 6 |
Kriteria 7 |
|
Tingkat I |
V |
v |
- |
- |
- |
- |
- |
|
Tingkat II |
V |
v |
v |
v |
v |
- |
- |
|
Tingkat III |
V |
v |
v |
v |
v |
v |
- |
|
Tingkat IV |
V |
v |
v |
v |
v |
v |
v |
II.
Analisa data
|
Analisa
data |
Etiologi
|
Masalah
|
|
Ds
: Ny. N mengatakan nyeri di tengkuk hingga keleher, seperti ditusuk-tusuk, mengatakan
tidak bisa tidur kalau malam karena nyerinya Klien
mengatakan pusing dan sakit kepala Klien
mengatakan jika nyeri timbul tidak bisa melakukan aktivitas Do
: Ny. N terlihat meringis, gelisah Skala
nyeri 5 TTV
: TD
: 160/100 mmHg N : 90 x/m T : 36,7 ͦ c RR : 20 x/m |
ketidakmampuan keluarga
dalam merawat anggota yang sakit dengan hipertensi |
Nyeri
akut |
|
Ds
: Ny. N mengatakan nyeri di tengkuk hingga leher dan nyerinya hilang timbul Ny.
N mengatakan tidak bisa tidur pada malam hari -
Ny. N mengatakan tadi malam hanya tidur 3 jam Do
: Ny. N terlihat meringis sambil memegangi lehernya -
Ny. N terlihat sedikit lemas |
ketidakmampuan keluarga
mengambil keputusan |
Gangguan
pola tidur |
III.
Rumusan masalah
1. [Domain
12.Kenyamanan, Kelas 1.Kode Diagnosa 00132]
Nyeri akut
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat
Anggota yang
sakit dengan hipertensi.
2. [Domain
4.aktivitas/istrahat, Kelas 1.Kode Diagnosa 00198]
Gangguan
pola tidur berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
IV.
Intervensi keperawatan
|
No |
Diagnosa
keperawatan |
Tujuan
dan kriteria hasil (NOC) |
Intervensi
(NIC) |
|
1. |
Domain 12 : kenyamanan Kelas : 1 nyeri akut Kode : 00132 Nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
dalam merawat Anggota yang sakit dengan hipertensi. Ditandai dengan : Ds : Ny.
N terlihat meringis, gelisah Skala
nyeri 5 TTV
: TD
: 160/100 mmHg N : 90 x/m T : 36,7 ͦ c RR : 20 x/m |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam/menit : Tingkat nyeri (2102) (skala 1 : berat, skala 2 : cukup
berat, skala 3 : sedang, skala 4 : ringan, skala 5 : tidak ada) Dengan kriteria hasil : 210201 nyeri (dari skala 2 menjadi 5) 210224 menyernyit/meringis (skala 2 menjadi 5) 210209 ketegangan otot (skala 1 menjadi 5) |
Manajemen nyeri (1400) 1.Identifikasi skala nyeri, lokasi,
periksa ttv karakteriksik, durasi, frekuensi, kualitas, dan
intensitas nyeri 2. Observasi reaksi nonverbal dari Nyeri Akut 3. Ajarkan kepada klien teknik
relaksasi non farmakologi untuk mengurangi nyeri 4. Kolaborasikan pemberian analgetik sesuai kebutuhan. |
|
2. |
Domain : 4 Kelas : 1 Kode : 00198 Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
mengambil keputusan Ditandai dengan : Ds : Ny. N mengatakan nyeri di
tengkuk hingga leher dan nyerinya hilang timbul Ny.
N mengatakan tidak bisa tidur pada malam hari -
Ny. N mengatakan tadi malam hanya tidur 3 jam Do
: Do : Ny. N
terlihat meringis sambil memegangi lehernya -
Ny. N terlihat sedikit lemas |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam/menit : Tidur : (0004) (skala 1 : sangat tergangggu, skala 2 :banyak terganggu,
skala 3 : cukup terganggu, skala 4 : sedikit terganggu, skala 5 : tidak
terganggu) Dengan kriteria hasil : Jam tidur (skala 2 menjadi skala 4) Kualitas tidur (skala 3 menjadi skala 5) Nyeri (skala 3 menjadi skala 5) |
Peningkatan tidur (1850) -
Identifikasi
penyebab tidur -
Monitor
kebutuhan klien -
Anjurkan
klien untuk menciptakan lingkungan yang nyaman -
Anjurkan
untuk minum obat nyeri sesuai indikasi |
V.
Implementasi keperawatan
|
Tanggal/
Jam |
Diagnosa
keperawatan |
Tindakan
|
Evaluasi
|
Tanda
tangan |
|
20 januari 2021 |
Kode : 00132 Nyeri akut berhubungan ketidakmampuan keluarga dalam
merawat Anggota yang sakit dengan hipertensi. |
1. Identifikasi skala nyeri, lokasi, karakteriksik,ttv
durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri Hasil : skala nyeri 5 (1/10) lokasi nyeri pada tengkuk
leher, karakteristik nyeri hilang timbul. 2. Observasi
reaksi nonverbal dari Nyeri Akut Hasil : klien Nampak meringgis, dan menahan nyeri di
kepala belakang 3. Ajarkan kepada klien teknik relaksasi non farmakologi
untuk mengurangi nyeri Hasil : klien menerima saran terapi pijat reflex, bekam,
dan kompres air hangat 4. Kolaborasikan pemberian analgetik sesuai kebutuhan. Hasil : obat analgetik yang diberikan yaitu Amlodipine
1x10 mg, Chlorpheniramine 2x1 mg, Diclofenac 3x50 mg |
S : nyeri Klien mengatakan nyeri pada tengkuk hingga ke
leher denga skala nyeri 5 hilang timbul Klien mengatakan nyerinya berkurang sejak di kompres
hangat O : klien tidak nampak meringis dan menahan sakit lagi. TD: 160/100 mmHg N: 90 x/m RR: 20 x/m T: 36,7 x/m |
|
|
20 januari 2021 |
Kode : 00198 Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
mengambil keputusan |
Identifikasi penyebab tidur Hasi; : Klien mengatakan tadi malam hanya tidur 3 jam Monitor kebutuhan klien Anjurkan klien untuk menciptakan lingkungan yang nyaman Anjurkan untuk minum obat nyeri sesuai indikasi Hasil : klien meminum obat yang dianjurkan |
S : setelah minum obat nyeri pada tengkuk berkurang, dan
tidur selama 5 jam O : klien terlihattersenyum Klien mengikuti instruksi perawat |
|
VI.
Evaluasi keperawatan
|
Tanggal
/ Jam |
Diagnosa
keperawatan |
evaluasi |
Tanda
tangan |
|
22 Januari 2021 |
Kode : 00132 Nyeri akut berhubungan ketidakmampuan keluarga dalam
merawat Anggota yang sakit dengan hipertensi. |
S : klien mengatakan nyeri pada tengkuk hingga ke leher
denga skala nyeri 5 hilang timbul O : klien terlihat meringis dan gelisah - klien mengetakan
sedikit berkurang sejak di kompres hangat - TTV: TD: 160/100 mmHg N: 91 x/m RR: 19 x/m T: 36,7 x/m A : Masalah nyeri akut teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi |
|
|
|
Kode : 00198 Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
mengambil keputusan |
S : klien mengatakan tidur hanya 5 jam pada malam hari - klien mengatakan terganggu dengan anak-anak yang rebut
di bawah O : Klien terlihat lebih cerah dari sebelumnya A: Masalah gangguan pola tidur teratasi sebagian P: Intervensi dilanjutkan |
|
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Hipertensi
dapat di definisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya
di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada populasi
lansia, hipertensi di definisikan sebagai tekanan sistolik > 160 mmHg dan
tekanan diastolik > 90 mmHg. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah
sistolik sedikitnya 140 mmHg atau
Tekanan
diastoliknya sekitar 90 mmHg (Price, 2005). Peningkatan tekana darah yang
melebihi tekanan darah normal seperti apa yang di sepakati oleh para ahli yaitu
> 140/90 mmHg (Sudoyo, 2006). Hipertensi suatu keadaan ketika seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang meningkatkan
peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mordalitas)
(Kushariyadi dalam Reny, 2014).
B.
Saran
Penulis menyadari bahwa makalah di atas masih
banyak kekurangan baik dari segi materi maupun penyusunan. Oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan kritik serta saran dari pembaca agar kedepannya
bisa lebih baik lagi dalam pembuatan makalah. Semoga makalah yang di buat ini
memberi banyak manfaat bagi pembaca dan penulis.
DAFTAR PUSTAKA
1. Çelik A, Yaman
H, Turan S, et al. asuhan keperawatan keluarga Tn.M dengan hipertensi pada Ny.
A diwilayah puskesmas asinua kabupaten konawe. J Mater Process Technol.
2018;1(1):1-8. http://dx.doi.org/10.1016/j.cirp.2016.06.001%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.powtec.2016.12.055%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.ijfatigue.2019.02.006%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.matlet.2019.04.024%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.matlet.2019.127252%0Ahttp://dx.doi.o.
2. Febrianti R. Asuhan
Keperawatan Keluarga dengan hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Juanda
Samarinda. 2019.
3. Saraswati CD. Asuhan
Keperawatan Keluarga Dengan Masalah Utama Obesitas.; 2019.
Komentar
Posting Komentar